Biografi Sayyid Qutub; Perjuangan Ulama sampai Berakhir di Tiang Gantungan

Sayyid Qutub memiliki nama lengkap Sayyid Qutub Ibrahim Husain Syadili. Beliau lahir pada tanggal 9 Oktober 1906, di Mausyah, yang merupakan salah satu wilayah provinsi Asyuth di dataran tinggi Mesir.

Oleh banyak akademisi, Sayyid Qutub dianggap sebagai ulama pembaharu modern abad ke-20. Hal itu jualah sehingga Sayyid Qutub dinobatkan sebagai salah satu ulama masyhur di dunia Islam di era kontemporer.

Keturunan Sayyid Qutub adalah asli India. Bermula dari kakek Sayyid Qutub yang keenam, yaitu al-Faqir Abdullah, datang dari India ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah itu, ia meninggalkan Mekah menuju dataran tinggi Mesir, dan akhirnya menetap di sana. Di antara anak keturunnya itu, lahirlah Sayyid Qutub.

Pendidikan Sayyid Qutub

Sejak kecil, dia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Islam yang kuat dan terhormat. Sayyid Qutub menempuh pendidikan dasarnya di desanya, dan dalam usia kecilnya itu, dia sudah menamatkan hafalan al-Quran.

Setamatnya di sekolah dasar, melanjutkan pendidikannya di tingkat menengah, dan kemudian pada tahun 1930, dia melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Dar al-Ulum, kemudian memperoleh gelar Lc dalam bidang sastra dan tarbiyah pada tahun 1933 di almamaternya.

Selanjutnya, dia mengajar dan almamater-nya mengutus Sayyid Qutub untuk melanjutkan pendidikan di Amerika pada tahun 1948. Dalam selama mengajar dan melanjutkan studi, Sayid Qutub telah mulai menulis dan dengan tekun ia mencurahkan waktunya dalam kegiatan dakwah.

Pandangan Sayyid Qutub terhadap dunia barat

Saat di Amerika, Sayyid Qutub terdaftar di sejumlah Perguruan Tinggi, misalnya Samford University di California, dan Greelay Colege di Corolado.

Di negara Barat inilah Sayyid Qutub banyak mendapat ilustrasi berbagai hal yang terjadi di masyarakat Barat yang dianggapnya gersang dari nilai-nilai ketuhanan.

Masyarakat Barat pada umumnya, terutama ketika Sayyid Qutub berada di sana, mereka berpaham materialisme dan materi inilah yang dipertuhankan menurut kesaksian Sayyid Qutub.

Pengalaman-pengalaman dan berbagai kesaksian Sayyid Qutub di negara Barat, memotivasi dirinya untuk giat menulis ketika kembali ke negerinya, Mesir.

Hal ini dilakukannya mengingat keahlian Sayid Qutub, adalah dalam bidang sastra, dan aktivitas lainnya di samping menulis, adalah mengkaji al-Quran dengan pendekatan sastranya dan pemikiran, serta aktif dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin, juga sebagai anggota Maktab Isyad ‘Am.

Pada tahun 1953, Sayyid Qutub mengadakan kunjungan ilmiah dan dakwah ke luar Mesir. Di antaranya adalah ke Damaskus untuk mengikuti Kongres Studi-studi Sosial, dan juga kunjungan ke al-Quds untuk mengikuti Muktamar Islam atas undangan jamaah Ikhwanul Muslimin di sana.

Riwayat Perjuangan Sayyid Qutub

Ketika terjadi revolusi di Mesir, pada awal tahun 1954, mereka yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin menjadi sasaran penangkapan, dan Sayyid Qutub termasuk di dalamnya. Sebagai akibatnya, Sayyid Qutub dimasukkan ke dalam penjara, selama lima belas tahun lamanya.

Ketika kesehatan Sayyid Qutub memburuk, dia kemudian dipindahkan ke rumah sakit penjara. Ketika masih berada di penjara rumah sakit, dan kesehatannya sudah membaik, di situ dia mempergunakan banyak kesempatan untuk menulis pemikiran-pemikirannya, dan termasuk menulis karya tafsirnya.

Sepuluh tahun Sayyid Qutub dalam penjara, dan pada tahun 1964, pemimpin Irak Abdus Salam Arif, berkunjung ke Mesir, dan pemimpin Irak ini berusaha mendesak pemimpin Mesir, Abdun Nashir, agar membebaskan Sayyid Qutub.

Sayyid Qutub tidak lama menghirup udara bebas, karena kembali lagi dipenjarakan dengan tuduhan bahwa, dia telah membuat konspirasi politik di kalangan Ikhwanul Muslimin untuk men-jatuhkan kepemimpinan Abdu Nashir.

Perjuangan berakhir di tiang gantungan

Setelah dijatuhkan siksaan yang sadis terhadap Sayyid Qutub, Mahkamah Revolusi kemudian menjatuhkan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutub.

Pihak penguasa telah berusaha keras, agar Sayyid Qutub mengakui tuduhan yang diarahkan kepadanya, dan mau menarik diri dari ucapannya, serta mengucapkan permohonan maaf sambil mengucapkan dukungannya terhadap kekuasaan.

Namun usaha membujuk Sayyid Qutub itu sia-sia, karena Sayyid Qutub justru mengatakan “jika aku dihukumi dengan benar aku suka, dan jika aku di-hukum dengan batil, aku benci kebatilan”.

Akhirnya, pada Ahad sore, 28 Agustus 1966, bertepatan dengan 12 Jumadil Staniyah 1386, persiapan ekseskusi terhadap Sayid Qutub sudah dimulai.

Keesokan harinya, tanggal 29 Agustus 1966, munculnya berita di media dengan tulisan “pelaksanaan eksekusi terhadap Sayyid Qutub telah selesai”. Demikianlah akhir kehidupan Sayyid Qutub yang wafat di tiang gantung dalam keadaan syahid.

Sepeninggal Sayyid Qutub, tercatat kurang lebih 57 karya ilmiah yang diwariskannya. Karya-karya tersebut, ada yang ditulisnya di dalam penjara dan di luar penjara, dengan berbagai disiplin ilmu keislaman, namun yang dominan adalah karyanya dalam bidang sastra.

Rujukan:

Abdillah F. Hasan, Tokoh-tokoh Mashur di Dunia Islam, (Surabaya: Jawara, 2004). Shalah Abd. al-Fattah al-Khalidi, Sayid Qutub al-Syāhid al-Hayy, (Amman: Maktabah al-Aqsha, 1981). Shalāh Abd. al-Fatāh al-Khalidi, Madhal Ilā Zhilāl al-Qur’ān, diterjemahkan oleh Salafuddin Abu Sayyid, Pengantar Memahami tafsir Fi Zhilalil Quran Sayid Qutub, (Solo-Surakarta: Intermedia, 2001).

You might also like