Pendapat Ulama Mengenai Celana Cingkrang Karena Isbal

Bagaimana hukum memakai celana cingkrang? Pertanyaan ini dijawab oleh Lembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir dengan mengutarakan pendapat ulama mengenai celana cingkrang.

Apa itu celana cingkrang?

Celana cingkrang adalah istilah celana yang tidak melewati dua mata kaki atau celana yang potongannya hanya sampai di atas mata kaki. Dalam Islam istilah, memakai pakaian melebihi batas dua mata kaki, disebut dengan Isbal.

Sejumlah hadis memang menunjukkan larangan berisbal bagi laki-laki. Di antaranya hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah. Rasulullah saw bersabda, ”Busana yang melebihi dua mata kaki maka (pemakainya) di dalam neraka.”

Kesimpulan yang dikemukakan oleh Dar al-Ifta’, bahwa memakai celana cingkrang atau ber isbal tidaklah mutlak karena dibatasi dengan hadis lain yang memberikan pembatasan, yaitu berisbal yang dilarang apabila disertai dengan rasa angkuh, sombong, dan membanggakan diri dengan busana dan apapun yang dimiliki.

Mengetahui pendapat ulama mengenai celana cingkrang menjadi penting, karena bagi sebagian kalangan dipahami sebagai perintah yang wajib dilakukan. Ini memunculkan beberapa fenomana baru tentang tatacara berbusana, terutama bagi kaum laki-laki.

Jika isbal haram, maka celaan cingkrang hukumnya wajib. Benarkah celana cingkrang hukumnya wajib berdasarkan hadis di atas? berikut pendapat ulama mengenai hal itu;

Pertama, Ulama bermazhab Hanafi sepakat bahwa larangan memakai celana melebihi batas dua mata kaki, apabila saat memakainya mengandung unsur kesombongan, keangkuhan, dan glamoritas.

Pendapat Ibnu Quddamah al-Hanbali

Imam Ibnu Quddamah al-Hanbali dalam kitabnya al-Mughni, mengatakan memanjangkan busana berupa jubah atau celana hingga mata kaki, hukumnya makruh. Jika hal itu dilakukan karena keangkuhan maka hukumnya adalah haram.

Dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyyah, yang bercorak Hanafi, disebutkan bahwa isbal busana bagi laki-laki selama tidak dimaksudkan untuk kesombongan, hukumnya adalah makruh tanzih (makruh yang dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang bisa merusak kehormatan).

Dengan menghukumi isbal makruh, maka menurut pendapat ini memakai celana cingkrang lebih bagus dibanding bukan celana cingkrang

Pendapat Abu al-Walid al-Baji al-Maliki

Menurut Imam Abu al-Walid al-Baji al-Maliki, dalam kitab al-Muntaqa, sabda Rasul “Barang siapa yang memanjangkan busananya karena sombong”, itu sangat berkaitan dengan unsur sombong. Sedangkan memanjangkan busana karena memang busananya panjang, atau tidak menemukan baju lain, atau kerena alasan tertentu, maka tidak termasuk isbal yang diperingatkan.

Kesimpulan dari yang dikemukakan Abu al-Walid, celana cingkrang bukanlah pakaian yang diwajibkan.

Pendapat Zakariya al-Anshari

Demikian pula pendapat ulama dari golongan Syafi’iy seperti Zakariya al-Anshari dalam kitab Asna al-Mathalib yang menjelaskan bahwa memanjangkan busana melebihi mata kedua mata kaki karena sombong, hukumnya haram. Dan jika dilakukan karena selain kesombongan hukumnya adalah makruh.

Pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Baz

Pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya menegaskan bahwa memakai celana melebihi batas dua mata kaki hukumnya haram, baik sebab sombong atau tidak. Jadi, menurut beliau, pakaian apa pun yang melewati mata kaki itu akan menyeret pelakunya ke neraka (H.R. Bukhari).

Abdullah Bin Baz membedakan ciri-ciri dosa kecil dan dosa besar. Dosa besar adalah perintah dan larangan yang mengandung kata-kata azab, neraka, siksa pedih, dsb. Dosa kecil yang tidak mengandung pernyataan tadi.

Karena itu menurutnya isbal itu haram. Meski tidak diiringi dengan sombong tapi perbuatannya bisa menjadi perantara menuju kesombongan, sebab perantara dihukumi sama dengan tujuan. Orang yang melakukannya dengan sombong, maka dosanya lebih besar lagi.

Pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani

Pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari, menjelaskan boleh memakai pakaian yang melebihi mata kaki selama tidak diringi dengan rasa sombong. karena menurutnya, sombong adalah taqyid (syarat ketentuan) penetapan dosa bagi pelaku isbal.

Jadi, meski secara tersirat makna hadis isbal menunjukkan keharaman, namun hadis-hadis ini juga menunjukkan adanya taqyid haramnya isbal karena sombong.

Menurutnya, selama ia tidak sombong, meski sarung atau celananya melebihi mata kaki, itu tidak termasuk haram dan dibolehkan. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini.

Dengan demikian, memakai celana cingkrang menurut Ibnu Hajar, hukumnya boleh selama tidak diikuti dengan rasa sombong karena menurutnya sifat sombong merupakan taqyid atau syarat ketentuan penetapan dosa untuk pelaku isbal.

Pendapat Imam An-Nawawi

Pendapat Imam An-Nawawi menjelaskan hukum memakai celana cingkrang dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim, hadis-hadis yang secara umum mengatakan bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki tempatnya di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong.

Karena sombong adalah taqyid yang mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya. Jadi, yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong.

Dengan demikian, menurutnya memakai celana cingkrang hukumnya wajib. Karena celana cingkrang tidak melewati batas kedua mata kaki.

Pendapat Ibnu Taimiyah

Pendapat Ibnu Taimiyah ditulis daam kitabnya Syarh al-‘Umdah, beliau mengatakan, kebanyakan hadis tentang isbal memuat kata khuyala’ (sombong) sebagai ketentuan syarat haramnya isbal.

Beliau juga menjelaskan, telah menjadi hal yang umum (waktu itu) bahwa isbal adalah kelakuan yang menunjukkan kesombongan. Karenanya dalam redaksi hadis yang umum, hanya disebutkan bahwa sarung yang berada di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka (HR. Bukhari), tanpa menyebutkan taqyid sombong, sebab sudah umum bahwa menjulurkan kain merupakan tabiat orang sombong.

Maka dalam hal ini hukum yang ditimbulkan oleh hadis yang umum tadi harus ditarik atau dibawa kepada hadis yang berbentuk muqayyad (terikat).

Artinya, menurut beliau memakai pakaian melebihi kedua mata kaki, hukumnya haram. Dalam artian, memakai celana cingkrang hukumnya wajib

Pendapat Imam asy-Syaukani

Pendapat Imam asy-Syaukani dalam kitab Nailaul Authar bahwa cuplikan sabda Nabi Saw. terhadap Abu Bakar, “Kalau Anda yang melakukan hal itu pasti bukan karena sombong”, merupakan sebuah pernyataan jelas bahwa fokus sebab keharaman isbal adalah sombong.

Seseorang yang melakukan isbal bisa jadi diringi dengan rasa sombong, tapi bisa juga tidak. Karenanya, keumuman hukum haramnya isbal tadi, menurutnya juga harus dibawa kepada hadis yang berbentuk muqayyad yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu hukum isbal menjadi haram jika mengandung sifat sombong.

Argumen itu didukung dengan hadis saat Hudzaifah bin al-Yaman berkata, Rasulullah saw pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau berkata, “Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih)

Nabi Muhammad SAW merupakan teladan yang baik bagi segenap umat. Dari dua hadis di atas diketahui bahwa Nabi SAW pun menganjurkan bahkan memakai kain (pakaian) diatas mata kaki (cingkrang). Namun, diperbolehkan untuk seseorang muslim menurunkan celananya akan tetapi dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki.

Kesimpulan pada pendapat imam asy-Syaukani, bahwa memakai pakaian melebihi batas dua mata kaki itu boleh selama tidak sombong. Dengan demikian memakai celana cingkrang juga boleh.

Kesimpulan hukum celana cingkrang

Jadi, jika melihat beberapa pendapat ulama mengenai boleh tidaknya memakai celana cingkrang, dibagi dalam dua pendapat. Pertama, celana cingkrang wajib karena isbal haram. Kedua, celana cingkrang boleh digunakan selama dengan dasar bahwa isbal bukanlah sesuatu yang diharamka jika tidak diikuti oleh kesombongan.

Dalam tradisi sejumlah lapisan masyarakat, pada masa itu, panjang busana dijadikan sebagai tolok ukur bagi kualitas dan strata sosial yang bersangkutan. Hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar ra, menyebutkan demikian, yaitu barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong (khuyala’), Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.

Sebaliknya, yang memakai celana cingkrang juga bukan berarti lebih tinggi tingkat takwanya dibanding yang tidak menggunakan celana cingkrang.

 

You might also like