Pendapat Ulama Mengenai Hukum Bermain Catur

Apa hukum bermain catur menurut Islam? Jawaban pertanyaan ini, tentu akan diambil dari pendapat para ulama mengenai hukum bermain catur.

Tidak dapat dipungkiri, catur merupakan permainan yang cukup familiar. Permainan ini cukup digemari, bahkan ada wacana bahwa catur akan dimasukan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

Selain sekedar permainan, catur juga menjadi ladang pencaharian bagi para atlit catur profesional.

Hukum permainan catur menjadi ramai ketika salah satu potongan video ustad Abdul Somad yang menukil pendapat Imam Hanafi, bahwa permainan catur hukumnya haram.

Jika berdasarkan dalil naqli, tak ada satu ayat pun dalam al-Quran yang secara jelas dan tegas menerangkan hukum bermain catur. Namun, ada beberapa hadits yang dapat dipahami sebagai dalil pengharaman catur.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum permainan catur, namun sepakat dalam tiga hal; pertama, permainan catur haram jika mengandung unsur judi. Kedua, catur haram jika karena permainan itu sampai meninggalkan kewajiban seperti shalat dll. Ketiga, catur haram jika saat bermain, mengandung unsur yang diharamkan, seperti berbohong, dll.

Selain dari ketiga hal tadi, ulama berbeda pendapat mengenai hukum permainan catur. Berikut; rincian pendapat ulama tersebut;

Pendapat ulama mazhab Hanafi,

Mayoritas ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukum bermain catur adalah boleh. Seperti yang ditulis Imam Nawawi dalam kitabnya

اَللَّعْبُ بِالشِّطْرَنْجِ مَكْرُوْهٌ، وَقِيْلَ: مُبَاحٌ لَا كَرَاهَةَ فِيْه

“Bermain catur hukumnya makruh. Dan dikatakan: Hukumnya mubah, tidak makruh”

Namun demikian, sebagian lagi berpendapat bahwa hukum bermain catur adalah makruh. Seperti dalam tulisan al-Qurthuby

وَقَالَ أَبُو حَنِيْفَةَ: يُكْرَهُ الشِّطْرَنْجُ وَالنَّرْدُ

“Imam Abu Hanifah berkata: Dimakruhkan bermain catur dan dadu”

Pendapat ulama mazhab Maliki

Ulama mazhab Maliki mengatakan bahwa bermain catur hukumnya haram. Pendapat ini dinukilkan dari pendapat sahabat sebeprti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Salim dan Urwah.

سُئِلَ يَعْنِي مَالِكٌ عَنِ اللَّعْبِ بِالشِّطْرَنْجِ، فَقَالَ: لَا خَيْرَ فِيْهِ، وَهُوَ مِنَ الْبَاطِلِ

“Imam Malik ditanya tentang hukum bermain catur, beliau menjawab: Tidak ada kebaikan di dalamnya. Ia termasuk hal sia-sia.”

Bahkan dalam tulisan Ibnu Rusyd, Imam Malik berpendapat bahwa catur termasuk hal batil”

Pendapat Ulama Mazhab Hanbali

Mayoritas ulama mazhab Hanbali mengharamkan catur. Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ulama dari mazhab Hanbali mengatakan:

فَأَمَّا الشِّطْرَنْجُ فَهُوَ كَالنَّرْدِ فِي التَّحْرِيمِ، إلَّا أَنَّ النَّرْدَ آكَدُ مِنْهُ فِي التَّحْرِيمِ. وَذَكَرَ الْقَاضِي أَبُو الْحُسَيْنِ: مِمَّنْ ذَهَبَ إلَى تَحْرِيمِهِ؛ عَلَيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، وَابْنَ عُمَرَ، وَابْنَ عَبَّاسٍ، وَسَالِمًا، وَعُرْوَةَ

“Adapun bermain catur maka hukumnya seperti bermain dadu dalam keharamannya. Hanya saja, bermain dadu lebih diharamkan dibanding bermain catur.

Pendapat Ulama Syafi’iy

Pendapat ulama syafi’iy tentang hukum bermain catur adalah boleh. Hal ini berdasarkan pendapat Abu Yusuf.

وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إلَى إبَاحَتِهِ وَحَكَى ذَلِكَ أَصْحَابُهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ

“Imam Syafi’i memilih kebolehan bermain catur. Dan para sahabat Syafi’i menceritakan bahwa pendapat ini merupakan pendapat Abu Hurairah, Said Ibni Musayyib, dan Said Ibni Jubair”

Abdullah bin Ahmad An-Nasyafi bahkan menyebutkan

إِنَّ اللَّعْبَ بِالنَّرْدِ مُبْطِلٌ لِلْعَدَالَةِ بِخِلَافِ الشِّطْرَنْجِ، لِأَنَّ لِلْاِجْتِهَادِ فِيْهِ مُسَاغًا لِقَوْلِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِي بِإِبَاحَتِهِ، وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ أَبِي يُوْسُفَ

“Sesungguhnya bermain dadu membatalkan (menghilangkan) sifat adil, berbeda dengan bermain catur. Sebab, hukum bermain catur merupakan lahan ijtihad, di mana imam Malik dan imam Syafi’i menyatakan kebolehannya.

Kesimpulan hukum bermain catur

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bermain catur. Ulama mazhab Syafi’I dan sebagian ulama mazhab Hanafi mengatakan boleh, dan sebagian lagi berpendapat, hukumnya makruh. Sedangkan menurut ulama mazhab Maliki dan Hanbali, hukumnya haram.

Rujukan: Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, juz 2, h. 121. Muhammad bin Ali Assyaukani, Nailul Awthar, juz 8, h. 107. Abdullah bin Ahmad an-Nasyafi, Al-Bahrur Raiq, juz 7, h. 154. Abdullah bin Ahmad bin Qudamah, al-Mughni, juz 23, h. 178. Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, juz 10, h. 494. Yahya bin Sharaf an-Nawawi, Raudhatut Thalibin, juz 8, h. 203. Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkamil Quran, juz 10, h. 493. Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, a-Bayan Wat Tahsil, juz 18, h. 436.

You might also like